Bisikan itu terus berdenging, samar tapi lembut mengetuk kalbu. Merajuk memanggil sembari melambaikan rasa. Menelusuk relung hati yang hampa dan gelap, coba memberi sepercik cahaya meski hanya baru sekedar noktah kerlipan bak bintang di ufuk fajar. Jejak hati memanduku kembali pulang, ya pulang ke fitrah insan dimana terpatri ikrar janji setiaku padaMU Coba kutata jejak-jejakLanjutkan membaca "Jejak Hati"
DUHAI BUAH HATIKU
Pancaroba semusim ini dewasakan hatimuMungkin goyah luruhkan pijakmuTapi tidak rindumuPada lentik jari memanjaPada timangtimang lelapkan tidurmuPada tutur kata menyejuk kalbuPada senyum damaikan laramuPada nasehat yang mendewasakanmuPada doa yang baluri sekujur tubuhmuPada keramat restu mudahkan langkahmu Kecup terakhirmu ikhlaskan pergikuLelapkan tidur panjangku di pembaringan sepiTaburi tidurku dengan limpahcurah do'amuBukan tangisan yang mengusik lelapkuCukup sebujur kakuku penyaksiLanjutkan membaca "DUHAI BUAH HATIKU"
ILALANG
BershafshafMenghampar bermunajat Kabarkan keresahan merajamMengiba rundukkan tangkainyaBerharap bayu datangkan embunPada semusim kemarau berkepanjanganDahaga Duh sang bayuKu tak memintamu berlebihUsah gelapnya mendung kau tawarkanSungguh sedusedannya menenggelamkankuHardiknya mengkerdilkankuAmarahnya tanggalkan akarakarkuTak sudi Duh sang pemberi kabarMunajatku sederhanaBawa serta embun dalam semilirmuBiarkan tetesnya membasahi rantingrantingkuMeresap dalam akarakarkuAgarku tegar berdiriPada semusim kemarau ini Duh sang kelanaSinggahlah barang sebentar sebelum kauLanjutkan membaca "ILALANG"
DO’A YANG TERHALANG
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahunDo’a yang kulantunkan begitu syahdu dan khusyu’Merenda permohonan melalui bait demi bait dzikir, tahmid dan tahlilHabis sudah kata-kata, khatam sudah ribuan lantunan do’aMalam-malam yang tak pernah kulewatkan tanpa qiyamul lailDhuha yang kulazimkan dikala mentari mulai meninggiWustho yang kucumbu di saat mentari tergelincir di ufukLanjutkan membaca "DO’A YANG TERHALANG"